Kuda, yes. Hewan yang berkaki empat tersebut memang memiliki catatan kelam yang dibuat-buat oleh manusia sendiri sehingga cap jelek pada nama kuda itu mengenang sekali pada keburukan-keburukan. Cukup seperti kuda adalah teman sayitan, atau kuda adalah pertanda malapetaka yang mengerikan.


Semisal kuda hitam, eh. Kalau yang benar dalam kiasan hanya kambing hitam ya. Berarti kuda hitam tercoret dari daftar justifikasi buruk terhadap kuda. Atau malah kuda hijau, apalagi itu malah ndak gathuk ya.


Baiklah langsung saja. Waktu iklan sudah selesai.


Kudalari


Beruntung kudalari termasuk justifikasi keburukan terhadap kuda yang tidak begitu populer amat diindonesia. Karena yang lebih populer adalah “togel” nya atau “lutris” begitu saja. Tetapi untuk kaum yang kaffah terhadap ranah dunia pertogelan mesti tau Kudalari, karena tidak mungkin seperti Bayi yang tidak tahu ibunya. Beda juga sih, kalau untuk ibu tiri.


Kudatuli


Begitulah dunia ini kejam adanya, tak ada cerita unik didunia ini tanpa unsur perpolitikan, justifikasi buruk disandangkan kepada peristiwa sabtu kelabu “Kerusuhan 27 Juli”ini memantapkan hati bahwa kuda sangat pas sebagai tunggangan politik yang memiliki testimoni kuat. Karena itu untuk kegiatan buzzer politik pun cukup patut diperhitungkan. Sehingga namanya diganti “Cuitan Kuda”daripada “Cuitan Burung”.


Kuda Besi


Serupa dengan rubrik otomojok, karena kuda besi berarti motor dan saya kurang tahu jelas kuda besi ini masuk dalam daftar justifikasi buruk apa tidak, setahu saya sih yang buruk itu ya Kuda Galak. Eh, itu bukan. Maksudnya Bojo Galak.


Kuda Lumping


Nah, masih seantero nusantara yang justifikasi buruk suka sekali dengan adegan “mangan beling”. Hiii.. Sini pelukan, termasuk adegan horor tauk. Uwiw.. Uwiw.. Uwiw


Begitu, kelima


Kita mungkin akan cukup fresh mendengarkan list satu ini. List ini memungkinkan kita untuk menggoyangkan badan, keluar dari hiruk pikuk dunia yang penuh ketidakpastian, dan menjadi segala diatas segala.


Kita saksikan penampilan biduan kondang kaloka. Mbak nella atau Mbak via.


“Jaaran Gooyangg”